Follow by Email

Rabu, 19 Oktober 2011

Karya Ilmiah Bahasa Indonesia

BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perada­ban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, keatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Jika mengacu pada fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut jelas sekali bahwa peran nilai-nilai agama menjadi sangat penting dalam setiap proses pendidikan yang terjadi di sekolah. Karena terbentuknya manusia yang beriman dan bertaqwa serta ber­akhlak mulia tidak mungkin terbentuk tanpa peran dari agama.
Peningkatan keimanan dan ketaqwaan siswa sesuai dengan tujuan penfidikan nasional tersebut bisa dilakukan melalui mata pelajaran, kegiatan ekstra kurikuler, pen ciptaan situasi yang kondusif maupun kerjasama sekolah dengan orang tua dan masyarakat.
Peningkatan irnan dan taqwa melalui mata pelajaran dilakukan oleh guru yaitu dengan cara mengkaitkan nilai-nilai Imtaq dan Iptek dalam pembelajaran tanpa mengubah kurikulum yang.
Keberhasilan siswa dalam belajar yang bisa meningkatkan Imtaq sangat dipengaruhi oleh kondisi internal siswa maupun faktor eksternal siswa. Salah satu faktor eksternal yang ikut berpe­ngaruh atas keberhasilan siswa dalam memahami suatu topik pembelajaran yang berasal dari guru adalah kemampuan guru dalam memilih metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat sehingga nilai-nilai Imtaq bisa mewarnai dalam pembelaja­ran tersebut.
Dalam suatu proses pembelajaran tidak ada suatu pendekatan pembelajaran yang tepat untuk semua topik dan semua situasi, oleh karena itu guru dalam menentukan metode dan pendeka­tan pembelajaran apa yang harus dipilih harus senantiasa mem­perhatikan kondisi siswa, sarana prasarana yang ada maupun mated pembelajaran apa yang akan dibahas.
Begitu juga di setiap sekolah tidak semua siswa mempunyai latar belakang sosiai budaya, ekonomi, agama serta motivasi yang sama dalarn setiap'belajarnya, kondisi ini mengharuskan setiap guru memahami karakteristik dari siswa atau kelas yang dihadapi jika ingin proses pembelajarannya bisa berhasil.
Kondisi yang berbeda-beda tentang latar belakang kemampu­an, ekonomi, sosial budaya, agama dan motivasi siswa tersebut dalam belajar, bisa terlihat dari prestasi belajar yang dicapai, akhlak, budi pekerti clan perilaku siswa yang ditunjukkan oleh siswa-siswa dalam kehidupannya sehari-hari
Permasalahan yang muncul adalah: Bagaimana integrasi materi pelajaran dan nilai-nilai agama Islam dalam penibelajaran? Dan Pendekatan pembelajaran apa yang kiranya sesuai dengan materi pembelajaran? Serta nilai-nilai Imtaq apa saja yang bisa dikem­bangkan dalam pembelajaran tersebut ? Itulah beberapa persoalan yang akan ditelaah dalam artikel ini.
 
 7
OPTIMALISASI PENDIDIKAN  AGAMA ISLAMOLEH GURU AGAMA ISLAM

Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agarmemahami (knowing), terampil melaksanakan (doing), dan mengamalkan(being) agama Islam melalui kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan AgamaIslam di sekolah (bukan di madrasah) ialah murid
memahami 
,
terampil melaksanakan 
, dan
melaksanakan 
ajaran Islam dalam kehidupan sehari-harisehingga menjadi orang yang  beriman dan bertakwa kepada Allah SWTberakhalak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.Optimalisasi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak berarti penambahanjumlah jam pelajaran di sekolah, tetapi melalui optimalisasi upaya pendidikanagama Islam. Itu berupa optimalisasi mutu guru agama Islam dan optimalisasisarana.Karakteristik utama PAI adalah banyaknya muatan komponen
being 
,  disamping sedikit komponen
knowing 
dan
doing 
. Hal ini menuntut perlakuanpendidikan yang banyak berbeda dari pendidikan bidang studi umum.Pembelajaran untuk mencapai
being 
yang tinggi  lebih mengarahkan padausaha pendidikan agar murid melaksanakan apa yang diketahuinya itu dalamkehidupan sehari-hari. Bagian paling penting dalam PAI ialah mendidik muridagar beragama; memahami agama (knowing) dan terampil melaksanakanajaran agama (doing) hanya mengambil porsi sedikit saja. Dua yang terakhir inimemang mudah.Berdasarkan pengertian itulah  pendidikan agama Islam memerlukanpendekatan pendekatan naql, akal dan qalbu. Selain itu juga diperlukan saranayang memadai sehingga mendukung terwujudnya situasi pembelajaran yangsesuai dengan karakter  pendidikan agama Islam. Sarana  ibadah, sepertimasjid/mushallah, mushaf al-Quran, tempat bersuci/tempat wudlu merupakansalah satu contoh sarana pendidikan agama Islam yang dapat dipergunakansecara langsung oleh siswa untuk belajar agama Islam.Peningkatan mutu guru agama Islam diarahkan agar ia mampu mendidik muridnya untuk menguasai tiga tujuan tadi. Untuk itu perlu ditingkatkankemampuannya dalam penguasaan materi pelajaran agama, penguasaanmetodologi pengajaran, dan peningkatan keberagamaannya sehingga ia pantasmenjadi teladan muridnya.Banyak orang memberikan penilaian terhadap keberhasilan guru agamaIslam (GAI). Pada umumnya, mereka menyatakan bahwa GAI banyak gagaldalam pelaksanaan pendidikan agama Islam.Penelitian menunjukkan bahwa pada aspek 
knowing 
dan
doing 
guruagama tidak gagal; mereka banyak gagal pada pembinaan aspek keberagamaan (being). Murid-muridnya memahami ajaran agama Islam,terampil melaksanakan ajaran itu, tetapi mereka sebagiannya tidak melaksanakan ajaran Islam tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Merekamemahami hukum dan cara shalat lima, terampil melaksanakan shalat lima,
 
 8
tetapi sebagian dari murid itu tidak melaksanakan shalat lima. Mereka tahukonsepjujur, mereka tahu cara melaksanakan jujur, tetapi sebagian dari merekatetap sering tidak jujur dalam kehidupannya sehari-hari. Jadi, aspek keberagamaan itulah yang sangat penting untuk ditingkatkan.Berikut ini adalah uraian singkat tentang metode internalisasi yangbertujuan untuk meningkatkan keberagamaan siswa sekolah.
 Metode Internalisasi 
Sesuatu yang telah diketahui dapat saja sekedar diketahui, tempatnya diotak. Untuk mengetahui apakah murid sudah tahu, guru dapat memberikan soalujian atau ulangan. Jika jawabannya benar, berarti murid sudah tahu. Muridmampu bahkan terampil melaksanakan yang ia ketahui itu. Tempatnya dianggota badan. Nah, yang di otak dan yang di badan itu boleh jadi menetapsaja di situ; dua-duanya itu masih berada di luar kepribadian, masih berada didaerah ekstern, belum berada di daerah dalam kepribadian (intern). Karena itupengetahuan dan keterampilan harus dimasukkan ke daerah intern. Prosesmemasukkan inilah yang disebut internalisasi. Untuk memahami konsep ini lebihdalam cobalah perhatikan uraian berikut ini.
 Tiga Tujuan Pembelajaran 
Ada tiga tujuan pembelajaran. Ini berlaku untuk pembelajaran apa saja.1.
Tahu
, mengetahui (knowing). Di sini tugas guru ialah mengupayakan agarmurid mengetahui sesuatu konsep. Murid diajar agar mengetahui menghitungluas bidang. Guru mengajarkan bahwa  cara yang paling mudah untuk mengetahui luas bidang segi empat ialah dengan mengalikan panjang (p)dengan lebar (l). Guru menuliskan rumus: Luas = panjang x lebar (L=pxl). Gurumengajarkan ini dengan cara memperlihatkan beberapa contoh bidang. Untuk mengetahui apakah murid telah memahami, guru sebaiknya memberikan soal-soal latihan, baik dikerjakan di sekolah maupun di rumah. Akhirnya guru yakinbahwa muridnya telah
mengetahui
cara menentukan luas bidang segi empat.Selesai aspek 
knowing 
.2.
Terampil
melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing).Dalam hal luas bidang seharusnya murid dibawa ke alam nyata yaitumenyaksikan bidang (bidang-bidang) tertentu, lantas satu persatu murid (dapatjuga dibagi menjadi kelompok-kelompok) mengukur secara nyata danmenentukan luas bidang itu. Bila semua murid telah menghitung dengan
cara 
 yang benar dan
hasil 
yang benar maka yakinlah guru bahwa murid telahmampu melaksanakan yang ia ketahui itu (dalam hal ini konsep dalam rumusitu tadi). Sampai di sini tercapailah tujuan pembelajaran aspek 
doing 
.3.
Melaksanakan
yang ia ketahui itu. Konsep itu seharusnya tidak sekedarmenjadi miliknya tetapi menjadi satu dengan kepribadiannya. Dalam hal contohtadi setiap ia hendak mengetahui luas, ia selalu menggunakan rumus yang telahdiketahuinya itu. Inilah tujuan pengajaran aspek 
being 
.Dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai buruk-baik (sepertipengajaran Matematika itu) proses dari
knowing 
ke
doing 
, dari
doing 
ke
being 
itu akan berjalan secara otomatis. Artinya, bila murid telah mengetahui
 
 9
konsepnya, telah terampil melaksanakannya, secara otomatis ia akanmelaksanakan konsep itu dalam kehidupannya. Nanti dalam kehidupannya, iaakan selalu mengalikan panjang dengan lebar bila mencari luas. Jika ia kurangbaik akhlaknya, paling jauh ia menipu angka, mungkin dia menipu dalammengukur panjang atau lebar, tetapi rumus itu tidak mungkindiselewengkannya. Karena itu dalam pengajaran yang tidak mengandung nilai(maksudnya: konsepnya bebas nilai) proses pembelajaran untuk mencapaiaspek 
being 
tidaklah sulit. Sangat berbeda bila dibandingkan dengan konsepyang mengandung nilai. Perhatikan contoh berikut.
 Tiga Tujuan Pembelajaran Shala 
Dengan memakai teori di atas kita dapat mengurai tiga tujuan pembelajaranshalat sebagai berikut:1.

Tahu konsep shalat (knowing).Dalam hal ini murid mengetahui definisi shalat, syarat dan rukun shalat,serta hukum shalat dalam ajaran Islam. Untuk mencapai tujuan ini guru danmurid dapat memilih metode yang telah banyak tersedia. Metode ceramahboleh digunakan, diskusi juga mungkin, tanya jawab baik juga, dan seterusnya.Untuk mengetahui apakah murid memang telah paham konsep, syarat danrukun shalat, guru dapat menyelenggarakan ujian berupa ujian harian yangsering disebut ulangan harian, atau dengan cara lain. Yang diuji hanyalah aspek pengetahuannya tentang konsep, syarat, dan rukun shalat. Jika hasil ujiansemuanya bagus, berarti tujuan pembelajaran asepek 
knowing 
telah tercapai.1.

Terampil melaksanakan shalat (doing).Untuk mencapai tujuan ini metode yang baik kita gunakan ialah metodedemonstrasi. Guru mendemonstrasikan shalat untuk memperlihatkan carashalat. Lantas murid satu demi satu (imgat: satu demi satu)mendemonstrasikan shalat. Guru dapat memutarkan video rekaman shalat(lengkap fi’liyah dan qauliyahnya) dan murid menontonnya. Tatkala muriddiminta mendemonstrasikan, guru telah dapat sekaligus memberikan penilaian.Jadi, di sini dilakukan pengajaran sekaligus penilaian. Bila guru telah yakinseluruh (sekali lagi seluruh) murid telah mampu melaksanakan (artinya terampildalam cara shalat), maka tujuan aspek 
doing 
telah tercapai.2.

Murid melaksanakan shalat dalam kehidupannya sehari-hari (being).Nah, di sinilah bagian yang paling rumit itu. Sebenarnya, kekuranganpendidikan agama di sekolah selama ini hanya terletak di sini, tidak pada aspek 
knowing 
dan
doing 
. Bagian
knowing 
dan
doing 
telah beres dan telah mencapaihasil yang sangat bagus karena bagian ini memang mudah. Jadi, jika berbicarametode pembelajaran agama Islam, sebenarnya untuk  tujuan pertama(knowing) dan kedua (doing) itu sudah tidak ada lagi persoalan, anggap sajatelah selesai, tidak lagi perlu diberikan pelatihan tentang itu. Itu sudah beres,katakanlah baik secara keilmuan maupun dalam pelaksanaan. Bagaimanametode untuk meningkatkan keberagamaan siswa. Ini aspek 
being 
.Inilahpersoalan kita.Pengetahuan masih berada di otak, di kepala, katakanlah masih berada dipikiran, itu masih berada di daerah luar (extern); keterampilan melaksanakan
 
 10
juga masih berada di daerah extern. Upaya memasukkan pengetahuan(knowing) dan keterampilan melaksanakan (doing) itu ke dalam pribadi, itulahyang kita sebut sebagai upaya internalisasi atau personalisasi. Internalisasikarena memasukkan dari daerah extern ke intern, personalisasi karena upayaitu berupa usaha menjadikan pengetahuan dan ketermpilan itu menyatu denganpribadi (person).Metode internalisasi itu diaplikasikan dalam berbagai teknik. Ada dua tenik utama. Pertama,  teknik pengajaran kognitif; untuk ini  Anda dapat menyusunprogram pengajaran kognitif dengan menggunakan  uraian  afektifnya Bloomdan kawan-kawan. Kedua teknik non pengajaran kognitif, seperti yang diuraikanberikut ini.
 1.  Peneladanan
Pendidik meneladankan kepribadian muslim, dalam segala aspeknya baik pelaksanaan ibadah khas maupun yang
‘am 
. Yang meladankan itu tidak hanyaguru, melainkan semua orang yang kontak dengan murid itu, antara lain guru(semua guru), kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan segenap aparat sekolahtermasuk pesuruh, penjaga sekolah, penjaga sepeda, dan orang-orang yangberjualan di sekitar sekolah. Terpenting ialah peneladanan oleh orang tua muriddi rumah. Mereka itu seharusnya meneladankan tidak hanya pengamalanibadah khas, tetapi juga ibadah yang umum seperti meneladankan kebersihan,sifat sabar, kerajinan, transparansi, musyawarah, jujur, kerja keras, tepatwaktu, tidak berkata jorok, mengucapkan salam, seyum, dan seterusnyamencakup seluruh gerak gerik dalam kehidupan sehari-hari yang telah diaturoleh Islam.Mengapa peneladanan sangat efektif untuk internalisasi? Karena muridsecara psikologis senang meniru, kedua karena sanksi-sanksi sosial, yaituseseorang akan merasa bersalah bila ia tidak meniru orang-orang di sekitarnya.Dalam Islam  bahkan peneladanan ini  sangat diistimewakan denganmenyebut bahwa nabi itu teladan yang baik (uswah hasanah). Nabi dan Tuhanmenyatakan teladanilah nabi. Dalam perintah yang ekstrem disebutkan barangsiapa yang menginginkan berjumpa dengan Tuhannya hendaklah ia mengikutiAllah dan rasulNya.Jika di atas dikatakan pembelajaran agama Islam selama ini gagal padabagian keberagaman, sangat mungkin guru agama dan para pendidik lainnyakuarang memperhatikan teori ini.
 2.  Pembiasaan
Kadang-kadang kepala sekolah merasa terlalu banyak waktu akan terbuangbila pembiasaan hidup beragama terlalu maksimal di sekolahnya. Adapembiasaan shalat berjama’ah zuhur, dikatakan merepotkan, memboroskanwaktu. Ada pembiasaan melaksanakan shalat jum’at di sekolah, disebutmemboroskan waktu dan merepotkan.Satu kelas menengok kawannya yang sakit, digunakan waktu 60 menit, itu akanmerugikan jam pelajaran efektif, urunan untuk membantu  teman yang sakitdisebut pemborosan, dan sebagainya.
 
 11
Pandangan ini sebenarnya sangat keliru. Inti pendidikan yang sebenarnyaialah pendidikan akhlak yang baik. Akhlak yang baik itu dicapai dengankeberagamaan yang baik, keberagamaan yang baik itu dicapai dengan –antaralain- pembiasaan. Jarang kepala sekolah menyadari bahwa bila akhlak muridbaik, maka pembelajaran lainnya akan dapat dilaksanakan dengan lebih mudahdengan hasil yang lebih baik. Konsep ini sekalipun sangat jelas, pada umumnyabelum juga disadari oleh para guru. 
3.  Shalat sunnat mutlak sebagai pengganti ceramah Israk  Mikraj.
Tatkala tiba hari peringatan isra mikraj, biasanya ada ceramah. Isi ceramahnyasudah ditebak murid-murid. Karena itu sesekali tidak perlu ada ceramah.Diumumkan pada murid, besok siap wudluk dari rumah, bawa pakaian slahat,kita akan mengadakan peringatan israk mikraj. Tiba waktunya, pada jampelajaran pertama, semua murid disuruh masuk musholla atau aula, lantasmelakukan shalat sunat sebanyak –misalnya- 20 rakaat, lakukan dua-dua,namanya shalat sunat mutlak. Itu akan menggunakan waktu sekitar 30 menittermasuk persiapan. Isra mikraj itu intinya ialah shalat. Setelah selesaikembalilah ke kelas, jam pelajaran efektif hanya terpakai sekitar 40 menitsecara keseluruhan. 
4.   Membaca shalawat sebagai pengganti ceramah Maulud Nabi.
 Tatkala peringatan maulud nabi, sesekali tidak perlu ada ceramah, tohceramahnya rata-rata sudah dapat ditebak. Guru mengumumkan pada muridbahwa besok kita mengadakan peringatan maulud nabi. Besoknya murid-muridsemua dikumpulkan di aula atau musholla (bila dapat menampung). Gurumengomando, mari kita membacakan shalawat untuk nabi, selama 20 menit.Guru agama, atau guru lain, atau salah seorang murid memimpin pembacaanshalawat. Bila telah selesai, kembalilah ke kelas. Jam pelajaran efektif hanyaterpakai kurang dari 30 menit. 
5.  Berbagai perlombaan
 Perlombaan-perlombaan banyak yang dapat dimanfaatkan sebagai teknik internalisasi yang dimaksud. Perlombaan mengarang yang isinya diarahkan kenilai-nilai keberagamaan, perlombaan berpidato atau khutbah, cerdas cermat,dan sebangsanya merupakan pilihan yang layak dipertimbangkan. 
6.  Berbagai doa
 Do’a akan memulai pelajaran boleh saja sekali-sekali membaca sesuatu ayat(atau beberapa ayat) al-Qur`an. Do’a selesai belajar sebaiknya jangan satumacam. Boleh diganti dengan bacaan semacam wirid. Misalnya, guru berkataanak-anak kita telah selesai belajar, kita akan pulang kerumah, mari kitamembaca ayat kursi 3 kali, mulai. Lantas pulang dan guru tidak usahmengucapkan apa-apa lagi. 
7.  Menyanyikan lagu-lagu keagamaan
 Ini baik sekali bagi murid-murid Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
 
 
B. Maksud dan Tujuan
Karya ilmiah ini kami buat untuk memenuhi tugas dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Salain itu, karya ilmiah ini dapat menambaha ilmu pengetahuan bagi penulis maupun pembaca dan juga dapat melatih penulis untuk membuat karya ilmiah yang baik dan benar.











BAB II
PEMBAHASAN

A.    Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Oleh Guru Agama Islam
Pendidikan Agama Islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa agar memahami (knowing), terampil melaksanakan (doing), dan mengamalkan(being) agama Islam melalui kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan Agama Islam di sekolah (bukan di madrasah) ialah murid memahami , terampil melaksanakan , dan melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-harisehingga menjadi orang yang  beriman dan bertakwa kepada Allah SWT berakhalak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat,berbangsa dan bernegara. Optimalisasi Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak berarti penambahanjumlah jam pelajaran di sekolah, tetapi melalui optimalisasi upaya pendidikanagama Islam. Itu berupa optimalisasi mutu guru agama Islam dan optimalisasisarana.Karakteristik utama PAI adalah banyaknya muatan komponen being ,  disamping sedikit komponen knowing dan doing . Hal ini menuntut perlakuan pendidikan yang banyak berbeda dari pendidikan bidang studi umum.Pembelajaran untuk mencapai being  yang tinggi  lebih mengarahkan padausaha pendidikan agar murid melaksanakan apa yang diketahuinya itu dalamkehidupan sehari-hari. Bagian paling penting dalam PAI ialah mendidik muridagar beragama; memahami agama (knowing) dan terampil melaksanakanajaran agama (doing) hanya mengambil porsi sedikit saja. Dua yang terakhir inimemang mudah.Berdasarkan pengertian itulah  pendidikan agama Islam memerlukanpendekatan pendekatan naql, akal dan qalbu. Selain itu juga diperlukan saranayang memadai sehingga mendukung terwujudnya situasi pembelajaran yangsesuai dengan karakter  pendidikan agama Islam. Sarana  ibadah, sepertimasjid/mushallah, mushaf al-Quran, tempat bersuci/tempat wudlu merupakansalah satu contoh sarana pendidikan agama Islam yang dapat dipergunakansecara langsung oleh siswa untuk belajar agama Islam.Peningkatan mutu guru agama Islam diarahkan agar ia mampu mendidik muridnya untuk menguasai tiga tujuan tadi. Untuk itu perlu ditingkatkankemampuannya dalam penguasaan materi pelajaran agama, penguasaanmetodologi pengajaran, dan peningkatan keberagamaannya sehingga ia pantasmenjadi teladan muridnya.Banyak orang memberikan penilaian terhadap keberhasilan guru agama Islam (GAI). Pada umumnya, mereka menyatakan bahwa GAI banyak gagal dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam.Penelitian menunjukkan bahwa pada aspek knowing dan doing guru agama tidak gagal; mereka banyak gagal pada pembinaan aspek keberagamaan (being). Murid-muridnya memahami ajaran agama Islam,terampil melaksanakan ajaran itu, tetapi mereka sebagiannya tidak melaksanakan ajaran Islam tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Merekamemahami hukum dan cara shalat lima, terampil melaksanakan shalat lima,  tetapi sebagian dari murid itu tidak melaksanakan shalat lima. Mereka tahukonsepjujur, mereka tahu cara melaksanakan jujur, tetapi sebagian dari merekatetap sering tidak jujur dalam kehidupannya sehari-hari.
B.     Metode Internalisasi 
Sesuatu yang telah diketahui dapat saja sekedar diketahui, tempatnya diotak. Untuk mengetahui apakah murid sudah tahu, guru dapat memberikan soalujian atau ulangan. Jika jawabannya benar, berarti murid sudah tahu. Muridmampu bahkan terampil melaksanakan yang ia ketahui itu. Tempatnya dianggota badan. Nah, yang di otak dan yang di badan itu boleh jadi menetapsaja di situ; dua-duanya itu masih berada di luar kepribadian, masih berada didaerah ekstern, belum berada di daerah dalam kepribadian (intern). Karena itupengetahuan dan keterampilan harus dimasukkan ke daerah intern. Prosesmemasukkan inilah yang disebut internalisasi. Untuk memahami konsep ini lebihdalam cobalah perhatikan uraian berikut ini.

C.     Tiga Tujuan Pembelajaran Shalat 
Dengan memakai teori di atas kita dapat mengurai tiga tujuan pembelajaranshalat sebagai berikut:
  1. Tahu konsep shalat (knowing).Dalam hal ini murid mengetahui definisi shalat, syarat dan rukun shalat,serta hukum shalat dalam ajaran Islam. Untuk mencapai tujuan ini guru danmurid dapat memilih metode yang telah banyak tersedia. Metode ceramahboleh digunakan, diskusi juga mungkin, tanya jawab baik juga, dan seterusnya.Untuk mengetahui apakah murid memang telah paham konsep, syarat danrukun shalat, guru dapat menyelenggarakan ujian berupa ujian harian yangsering disebut ulangan harian, atau dengan cara lain. Yang diuji hanyalah aspek pengetahuannya tentang konsep, syarat, dan rukun shalat. Jika hasil ujiansemuanya bagus, berarti tujuan pembelajaran asepek knowing telah tercapai.
  2. Terampil melaksanakan shalat (doing).Untuk mencapai tujuan ini metode yang baik kita gunakan ialah metodedemonstrasi. Guru mendemonstrasikan shalat untuk memperlihatkan carashalat. Lantas murid satu demi satu (imgat: satu demi satu)mendemonstrasikan shalat. Guru dapat memutarkan video rekaman shalat(lengkap fi’liyah dan qauliyahnya) dan murid menontonnya. Tatkala muriddiminta mendemonstrasikan, guru telah dapat sekaligus memberikan penilaian.Jadi, di sini dilakukan pengajaran sekaligus penilaian. Bila guru telah yakinseluruh (sekali lagi seluruh) murid telah mampu melaksanakan (artinya terampildalam cara shalat), maka tujuan aspek doing telah tercapai.
  3. Murid melaksanakan shalat dalam kehidupannya sehari-hari (being).Nah, di sinilah bagian yang paling rumit itu. Sebenarnya, kekuranganpendidikan agama di sekolah selama ini hanya terletak di sini, tidak pada aspek knowing dan doing . Bagian knowing dan doing telah beres dan telah mencapaihasil yang sangat bagus karena bagian ini memang mudah. Jadi, jika berbicarametode pembelajaran agama Islam, sebenarnya untuk  tujuan pertama(knowing) dan kedua (doing) itu sudah tidak ada lagi persoalan, anggap sajatelah selesai, tidak lagi perlu diberikan pelatihan tentang itu. Itu sudah beres,katakanlah baik secara keilmuan maupun dalam pelaksanaan.
  
D.  Orang Tua Murid
Rumah tangga (di situ ada orang tua murid) adalah tempat pendidikan pertama dan utama. Pertama karena di situlah murid itu mula-mula mendapat pendidikan; utama karena pengaruh pendidikan di rumah tangga itu sangat besar dalam terbentuknya kepribadian. Pernyataan ini menunjukkan pentingnya sekolah bekerjasama dengan rumah tangga, maksudnya bekerjasama denganorang tua murid. Pentingnya sekolah bekerjasama dengan rumah tangga sudah sejak lama diteorikan. Sekarang ini semua guru menganggap perlu adanya kerjasama dengan orang tua murid. Guru Matematika perlu kerjasama dengan orang tua murid, sekurang-kurangnya agar orang tua murid mengingatkan agar anaknya tidak lupa mengerjakan PR. Guru mata pelajaran lain demikian juga. Nah, agar pendidikan keimanan dan ketakwaan  berhasil;  kerjasama sekolah dengan orang tua murid sangat perlu. Pada bagian terdahulu sudah dijelaskan bahwa bagian terbesar tujuan pendidikan agama adalah keberagamaan murid, artinya berhasil atau tidaknya pendidikan agama  itu ditandai oleh diamalkannya ajaran agama itu sehari-harioleh murid. Nah, orang tua di rumahlah yang paling mengetahui pengamalan itu oleh anaknya. Orang tua melihat anaknya mengamalkan ajaran agama. Lebih dari itu, metode peneladanan sebagai metode unggulan untuk meningkatkan keberagamaan murid, sangat mengandalkan peneladanan oleh orang tuanya di rumah. Orang tuanyalah yang paling tepat untuk meneladankan shalat tepat waktu, meneladankan kesabaran, pemurah, orangtuanyalah yang paling tepat meneladankan bagaimana menghormat tamu, bertetangga, dan lain-lain bentuk pengamalan ajaran Islam sebagai tanda keberagamaan. Pembiasaan adalah metode unggulan yang lain dalam mengembangkan keberagamaan murid. Lagi-lagi, orang tua di rumahlah yang paling cocok untuk membiasakan tersebut, yaitu membiasakan mengamalkan ajaran Islam. Orangtuanya membiasakan shalat tepat waktu, membaca basmalah tatkala akanmakan, menjawab salam bila tamu berkunjung ke rumah. Metode andalan tersebut (peneladanan dan pembiasaan) memang dapat juga digunakan di sekolah, dilakukan oleh kepala sekolah, guru agama, guru umum, dan aparat sekolah laoinnya. Tetapi, penerapan kedua metode itusangat terbatas di sekolah karena kehidupan murid itu jauh lebih lama di rumahketimbang di sekolah. Kehidupan di rumah adalah kehidupan yang asli, yangsebenarnya, sementara kehidupan di sekolah kebanyakan artifisial, tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya. Konsekwensi dari konsep-konsepini antara lain ialah pendidikan keberagamaan lebih berhasil bila dilakukan dirumah ketimbang di sekolah. Keunggulan pendidikan agama di sekolah ialahdan hanya dalam bidang menambah pemahaman; meningkatakankeberagamaan murid sebagian besar harus di lakukan di rumah. Inilah yangmendasari teori kita bahwa untuk memperoleh peningkatan kebertagamaanmurid adalah sangat perlu adanya kerjasama sekolah dan rumah tangga.  




BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
-     Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta perada­ban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, keatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
-        Tujuan pendidikan Agama Islam di sekolah (bukan di madrasah) ialah murid memahami , terampil melaksanakan , dan melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang  beriman dan bertakwa kepada Allah SWT berakhalak mulia dalam kehidupan pribadi, berkeluarga, bermasyarakat,berbangsa dan bernegara.
-        Kehidupan di rumah adalah kehidupan yang asli, yang sebenarnya, sementara kehidupan di sekolah kebanyakan artifisial, tidak selalu menggambarkan kehidupan yang sebenarnya.
B. Saran
-        Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita semua.
-        Perbanyaklah interaksi dengan orang disekitar, untuk menambah ilmu agama.
-        Jangan lupa belajar.
DAFTAR  ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Maksud dan Tujuan......................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Optimalisasi Pendidikan Agama Islam Oleh Guru Agama Islam ..  4
B. Metode Internalisasi ....................................................................... 6
C. Tiga Tujuan Pembelajaran Shalat .................................................... 6
D. Orang Tua Murid............................................................................................................. 8
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .....................................................................................  10
B. Saran ...............................................................................................  10
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 11




















DAFTAR PUSTAKA


Departemen Pendidikan Nasional Dirjend Dikdasmen. 2001. Peningkatan Keimanan dan Ketaqwaan Melalui Kerjasama Sekolah dengan Orang Tua dan Masyarakat. Jakarta : Proyek Peningkatan Wawasan Keagamaan Guru.


Madhakomala. 2002. Metode Internalisasi Pendidikan Pascasarjana Uhamka. Jakarta.

Made Pidarta. 1997.
Tiga Tujuan Pembelajaran Shalat  Jakarta : Rineka Cipta.

Muhammad Dimyati. 1988. Landasan Kependidikan. Jakarta : Depdikbud Dirjend Dikti Proyek LPTK.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar